Skin
adalah zona disekitar perforasi yang mengalami penurunan permeabilitas. Skin merupakan suatu besaran yang
menunjukan ada atau tidaknya kerusakan formasi disekitar lubang sumur. Skin ini mengakibatkan berkurangnya
permeabilitas formasi disekitar lubang bor disebabkan oleh runtuhnya dinding
lubang sumur, terjadinya pengendapan, dan invansi partikel-partikel selama
pemboran, completion, dan produksi
berjalan. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan berkurangnya permeabilitas
disekitar lubang bor, sehingga permeabilitas rata-rata dari formasi disekitar
sumur tersebut menjadi rendah.
Harga skin dapat dicari dari hasil analisa pressure buildup test metode Horner,
dimana persamaan untuk menghitung besarnya skin
sebagai berikut :
Dimana :
S = Skin
k = permeabilitas, mD
q = laju produksi fluida minyak, bfpd
µ = viskositas minyak, cp
Ф =
porositas batuan
rw = radius sumur, feet
m = Slope, psi/cycle
Ct = Kompresibilitas batuan, psi-1
P1hour = Tekanan 1 jam, psi
Menurut
Hurst (1953), formasi di sekitar lubang sumur mengalami kerusakan. Luas daerah
formasi yang mengalami kerusakan ini relatif tipis hanya di sekitar lubang
sumur maka disebut Skin, sehingga
aliran dari formasi terhambat mengalir ke lubang sumur. Hal ini dikarenakan
oleh permeabilitas di sekitar lubang sumur menurun akibat adanya skin. Sebagai efek dari penurunan
permeabilitas tersebut akan mempengaruhi tekanan di sekitar lubang sumur
(Gambar 3.8). (Matthews, 1967)
Gambar
Distribusi
Tekanan Akibat Adanya Skin
(Matthews, 1967)
Selanjutnya menurut
Horner (1951) dalam metode Horner ini dapat dibuat suatu klasifikasi nilai Skin (Matthews, 1967), yaitu :
S = + (positif)
menunjukkan indikasi adanya kerusakan formasi
S = 0 (nol) menyatakan
tidak ada kerusakan atau perbaikan formasi
S = - (negatif) memperlihatkan
indikasi adanya perbaikan formasi